top of page
Search

Tokoh Boedi Oetomo

  • Writer: Andrik Wijaya
    Andrik Wijaya
  • Oct 1, 2019
  • 8 min read

Updated: Oct 6, 2019

Berikut ini tokoh tokoh pendiri organisasi Boedi Oetomo :



1. Soetomo

R Soetomo dilahirkan di Ngepeh, Kabupaten Nganjuk Jawa Timur , 30 Juli 1888. Ketika lahir bemama Soebroto. Perubahan nama menjadi Soetomo terjadi di Bangil ketika ia hendak dimasukkan ke Sekolah Dasar Belanda. Waktu didaftarkan di sekolah itu mula-mula ia ditolak. Sedangkan anak pamannya yang bernama Sahit diterima. Pamannya, yaitu Ardjodipoero lalu menggunakan akal agar Soebroto diterima. Keesokan harinya ia membawa kembali Soebroto ke sekolah, dan menyatakan bahwa anak yang dibawanya itu adalah Soetomo, adik Sahit yang diterima lebih dulu. Anehnya, pimpinan sekolah tidak mengambil tindakan apapun kecuali menerirnanya, meskipun mengerti akal Ardjodipoero. Sejak itulah nama Soetomo tetap dipakai sampai akhir hayatnya (Sekarlaranti, Moersid, & Saryadi, 2014: 18).


2. Moehamad Soelaiman

Moehammad Soelaiman dilahirkan di Grabag, Kemutihan, Purworejo, Jawa Tengah, tahun 1886. Memiliki nama kecil Sleman. Ayahnya, Sonto Wirok (Sonto Suwondo), seorang ketib, pemuka agama yang sering berdakwah ke desa- desa, hingga wilayah Banyumas dan keturunan Haji Baelawi, penghulu Masjid Besar Poerworejo atau hoofdpengulu (hakim penghulu). Ayahnya wafat ketika Soelaiman masih kecil, dan selanjutnya Soelaiman hidup bersama kedua adiknya di bawah asuhan ibunya. Wawasan hidup sederhana terpatri erat dalam sanubari Soelaiman, menghormati orang lain, hormat kepada yang lebih tua maupun sesama, membuat Soelaiman bisa dekat dengan semua kalangan. Sejak 1891 pemerintah kolonial membuka peluang bagi para pemuda untuk menempuh pendidikan gratis di Eurepesche Lagere School (ELS) dan dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah dokter Jawa, dengan persyaratan priayi, cerdas, bisa berbahasa Belanda, dan belum berusia tujuh tahun. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Soelaiman. Meski belum genap tujuh tahun, Soelaiman kecil yang tumbuh di lingkungan keluarga priayi masa itu, tentunya cukup mengerti berbahasa Belanda. Masa pendidikannya di Eurepesche Lagere School (ELS) di Purworejo dimulai sekitar tahun 1893/1894.

Pada usia 16 tahun, Soelaiman lulus dari Eurepesche Lagere School (ELS). Soelaiman remaja menyadari, kungkungan masyarakat kolonial hanya dapat ditembus dengan peningkatan kualitas manusia Jawa waktu itu melalui pendidikan, membuatnya mantap memasuki gerbang School Tot Opleiding van Indlansche Artsen (sekolah dokter) atau Stovia di Jakarta, 1 Maret 1903. Meninggalkan Purworejo dan memasuki Weltreveden, Batavia, membuat pengetahuan dan wawasannya bertambah luas. Soelaiman dikenal sangat cerdas, seperti en lopende woordenboek (sebuah kamus berjalan), jika teman-temannya belajar bersama, Soelaiman tiduran saja, tetapi kalau ujian lulus dengan nilai yangtinggi, demikian dikisahkan oleh Prof dr Sardjito kepada salah satu anak Soelaiman, saat menceritakan masa lalu di Stovia pada sebuah pertemuan di Yogyakarta. Dengan teman-temannya itu, Soelaiman pun sering terlibat diskusi tentang kebangsaan dan gejolak pergerakan, / hingga sejarah pun mencatat keterlibatanya pada pendirian Boedi Oetomo tahun 1908 sebagai wakil ketua. Pada kongres Pertama Boedi Oetomo, 3-5 Oktober 1908, di Yogyakarta, Soelaiman ikut hadir

(Sekarlaranti, Moersid, & Saryadi, 2014: 27-28).


3. RM Goembrek

Riwayat hidup dr RM Goembrek yang disarikan dari tulisan Sudarmaji: “SUD Banyumas: Mengapa Patut Dinamakan Dokter Goembrek?” R Gombrek dilahirkan pada 28 Juni 1885, dari pasangan RM Padmokoesoemo, Zst, Onderkolektur Karanganyar 1897-1913 dengan RA Padmokoesoemo. Ayahnya pernah menjabat asisten wedana Purwodadi Kawedanan Jenar Kabupaten Kutoarjo, yang kemudian dengan beslit 15 Desember 1886 diangkat menjadi Wedana Kebumen selama 11 tahun. Di sinilah ketika masih kecil Goembrek bersaudara telah menjadi anak yatim. Kedua kakeknya adalah Bupati di Karesidenan Bagelen. Perkawinan kedua orang tuanya merupakan besanan antara dua rekan sejawat elite birokrat (pejabat teras), bukan perkawinan keluarga yang menjadi prioritas tradisional masa itu. Ayahnya, RM Padmokoesoemo, terlahir dengan nama RM Soeseno dari pasangan R Adipati Tjokronegoro 11, Bupati Purworejo 11 1856- 1876, dengan istri padmi BRA Tjokronegoro 11, yang merupakan eueu turunan dari Susuhunan Pakoe Boewono IV, raja Surakarta 1788-1820 (Sekarlaranti, Moersid, & Saryadi, 2014: 44-45).


4. Soeradji

Salah satu pelajar Stovia yang pandai berbahasa Jawa adalah Soeradji. Karena itu ia menjadi perantara dan pemikat hati di antara para pelajar Stovia. Pun Soeradji menjadi perantara di antara para pelajar yang aktif di perkumpulan Boedi Oetomo dengan masyarakat bumiputera yang sehari-hari hanya mampu menggunakana bahasa Jawa. Sebelum muncul nama Boedi Oetomo, Soeradjilah yang mengusulkan nama perkumpulan mereka lewat dua nama yang disodorkannya yaitu “Eko Projo” dan “Boedi Oetomo”. Hal itu disampaikan kepada dr. Wahidin Soedirohoesodo saat mengunjungi Stovia. Soetomo yang waktu itu didampingi Soeradji berkata kepada dr Wahidin: “Menika satunggaling pedamelan sae sarta nelakaken budi utami.” Kata “boedi oetami” adalah bahasa Jawa bentuk kromo untuk “boedi oetomo.” Akhinya istilah Boedi Oetomo dijadikan nama resmi perkumpulan (organisasi) para pejar Stovia yang aktif dalam kegiatan pergerakan (Sekarlaranti, Moersid, & Saryadi, 2014:53).

Soeradji dilahirkan pada tahaun 1887, di Desa Uteran, Kabupaten Ponorogo. la adalah sulung dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Tirtodarmo, adalah seorang pensiunan guru Kepala Sekolah Rakyat. Orangtua Soeradji sangat ketat dalam mendidik perilakunya. Setamat dari Europese Lagere School (ELS) Soeradji melanjutkan studinya di sekolah kedokteran bumiputera (Stovia) di Jakarta. Suatu kali ayahnya merasa kecewa karena Soeradji tidak mendapat nilai yang baik, padahal telah dididik dengan keras sehingga menjadi siswa yang tekun. Karena itu ayahnya tidak mengirim uang sekolah kepadanya. Melihat situasi tesebut kemudian dr Wahidin yang sudah mengenal ssbelumnya, mengulurkan bantuan dengan menanggung semua biaya pendidikan Soeradji hinga lulus (Sekarlaranti, Moersid, & Saryadi, 2014:54).


5. Moehammad Saleh

Moehammad Saleh bin Sastrodikromo, demikian nama lengkap Moehammad Saleh, nama yang lebih dikenal pada buku- buku sejarah tentang penulisan organisasi pertama di Indonesia Boedi Oetomo. Namun tak banyak pula yang mengetahui, Salah sebagai salah satu pendiri Boedi Oetomo 1908, hingga akhir hayatnya sangat konsisten menjalankan pengabdiannya pad a nusa-bangsa. Di Probolinggo, masa tuanya dihabiskan, mengabdi sebagai dokter yang selalu melayani masyarakatnya tanpa pamrih. Untuk mengenang jasa perjuangan dan pengabdian panjangnya sebagai dokter, selain namanya pun telah diabadikan ~ada sebuah nama jalan utama di kota Probolinggo, dulu Jl Laut, Juga telah terabadikan sebagai nama rumah sakit pemerintah di Probolinggo, RSUD dr Moehammad Saleh (Sekarlaranti, Moersid, & Saryadi, 2014:63).


6. Gondo Soewarno


Gondo Soewarno atau sering dipanggil Soewarno, lahir di Boyolali pada 1887. la masuk pendidikan STOVlA pada 25 Januari 1902 dan lulus pada 20 September 1910. Pada awal berdirinya Boedi Oetomo, Soewarno memegang jabatan sebagai sekretaris sementara Boedi Oetomo. la mengeluarkan dua pernyataan mengenai organisasi Boedi Oetomo, namun tidak satupun dibubuhi tanggal dikeluarkannya pernyataan tersebut. Pernyataan pertama yang bertajuk “Kemajuan Bagi Hindia” muncul dalam koran Belanda Bataviaasch Nieuwsblad. 17 Juli 1908. Disusul dalam koran De Locomotief, 24 Juli 1908. Pernyataan kedua Soewarno bertajuk “Surat Edaran”,diterbitkan dalam mingguan Belanda Java Bode, 7 September 1908. Disebutkan bahwa pernyataan itu dikeluarkan pada 5 September 1908.

Soewarno dikenal pendiam, bahkan lebih pendiam bila dibandingkan Soeradji maupun Moehammad Saleh. Namun di balik sifat pendirinya tersebut, tersembunyi kekuatannya yang besar sebagai pemikir. Soewarno mahir berbicara dan menulis dalam bahasa Belanda. Kemahiran utamanya adalah bidang seni. Berbagai kemahirannya itu ia manfaatkan demi kemajuan Boedi Oetomo. Berikut cerita Soetomo mengenai Soewarno: “Bersungguh-sungguh dan berhati-hati, mundur setelah menunaikan tugasnya, sehingga orang tidak tahu hasil kegiatannya. Sejak sebagai siswa ia menjadi tangan kanan saya dan ia mempunyai kemampuan berbahasa Belanda yang sangat baik, dan digunakannya dengan bebas sempuma. Mas Soewarno bukan orang untuk bergelut di depan umum, dan bukan orangnya yang suka menentang musuh dengan otot, sekalipun ia yakin bahwa pendiriannya ditopang di atas kebenaran. Kekuatan Soewarno terletak pada arah yang lain, yaitu ketajaman penanyalah yang bisa menggerakkan hati lawan-lawannya, sehingga merekapun secara sadar atau tak sadar mengikut pada cita-cita kita (Sekarlaranti, Moersid, & Saryadi, 2014:69-69).



7. Angka Prodiosoedirdio


Dokter Angka lahir Selasa Kliwon 13 Desember 1987 Ayahnya bernama Prodjodiwirjo yang pada waktu itu menjabat sebagai asisten wedana (camat) di Madukara, Banyumas. Pada masa kecilnya dia dititipkan pada orangtua ibunya yaitu eyang R Santadiredja, patih Banyumas dan bersekolah di Holland Indische School (HIS) selama tujuh tahun. Karena prestasinya bagus Angka melanjutkan sekolah ke Hoogere Burger School (HBS) selama lima tahun. Kemudian melanjutkan sekolah pendidikan dokter bumiputera di Stovia. Tidak banyak referensi atau sumber yang dapat mengungkap riwayat hidup dr. Angka yang semasa hidupnya selalu mengabdikan diri sebagai dokter rakyat dan pendidik. Akhirnya sebuah riwayat hidup singkat dapat diperoleh dari biodata yang dibuat sendiri oleh putri dr Angka, yaitu Ny Soeharti Partana, di Purwokerto 6 April 2008.


Dokter Angka masuk di Stovia pada 4 Januari 1904. Berangkat dari kota kecil di Jawa Tengah, Angka mampu beradaptasi dengan lingkungan baru di Stovia. Pertemuan dengan teman- teman lain kelasnya, sering berdiskusi tentang kondisi bangsa, saat malam hari atau kala istirahat., membuat kepekaan sosial Angka bertambah tinggi. Pada 20 Mei 1908 bersama Soetomo dan kawan- kawannya, turutaktif dalam perkumpulan Boedi Oetomo sebagai salah satu pendirinya. Angka dipilih menjadi bendahara Boedi Oetomo. Bersifat pendiam dan hati-hati sehingga cocok perannya sebagai bendahara


Pada 30 Juli 1912 ia menamatkan pendidikan Stovia dengan predikat cumlaude. Atas prestasinya itu ia menerima cenderamata dari Stovia berupa jam saku berantai dengan gantungan terbuat dari emas, dan kuku macan. Sekarang benda tersebut disimpan oleh cucunya di Jakarta. dr Angka menikah dengan RA. Soedijah, puteri bapak/ ibu R. Poerwosoedirdjo pegawai suikerfabriek (pabrik gula) Kalibagor, Banyumas, dan dikaruniai tujuh anak, yaitu Soeprapti, Soekartini, Achmad Soeprapto, Maryani, Soeparti, Soejati, dan Soeharti. Pada saat riwayat hidup ini ditulis masih ada dua putri dr. Angka yang dikaruniai panjang umur yaitu Ny Soejati Iman Soepojo, berusia 85 tahun tinggal di Depok. Ny Soeharti Partana berusia 78 tahun tinggal di Purwokerto (Sekarlaranti, Moersid, & Saryadi, 2014:72).



8. Mohammad Soewarno


Mohammad Soewarno lahir pada tahun 1886 di Kemiri Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Iya masuk Stovia beliau masuk Stovia pada tanggal 18 Februari 1901 dan lulus pada tanggal 10 September 1910. Semasa di Stovia beliau aktif dalam pergerakan bersama teman-temannya bersama pelajar sekolah kedokteran pribumi. Iya termasuk salah satu pendiri perhimpunan Boedi Oetomo di antara kawan-kawan Mandiri lainnya. Mohammad Soewarno tercatat sebagai salah satu komisaris tanggung jawabnya kepada pemerintah beserta rakyat Indonesia tanpa mengharapkan imbalan apapun.


Mohammad Soewarno semasa studi di Stovia aktif dalam pergerakan bersama teman-temannya sesama pelajar sekolah kedokteran pribumi itu. la terrnasuk salah satu pendiri perhimpunan Boedi Oetomo. Di antara kawan-kawannya pendiri Boedi Oetomo, M. Soewarno terrnasuk angkatan pelajar yang lebih awal masuknya. Dalam kepengurusan Boedi Oetomo, nama Mohammad Soewarno tercatat sebagai salah seorang Komisaris (Pembantu Umum) bersama komisaris-komisaris lainnya yaitu Moehamrnd Saleh, Soeradji, dan Goembrek (Sekarlaranti, Moersid, & Saryadi, 2014:75).


9. Goenawan Mangoenkoesoemo


Tokoh yang satu ini sangat dekat dengan Soetomo. Itulah sebabnya, dalam tulisannya ten tang Goenawan, Soetomo menguraikan panjang lebar berbagai kesan dan kenangannya, sebagai berikut:”Tuan ini adalah salah seorang dari sekretaris saya. Mas Goenawan Mangoenkoesoemo, seperti hampir semua dari keluarganya mempunyai pekerti dan rasa akan bahasa Belanda, ditambah dengan temperamennya (tangkasnya), maka tulisan- tulisannya dapat menggembirakan kawan, membuat panas hati dan merah telinga lawan-Iawannya. Sebagai keturunan Tjitrosoemo, sudah selayaknya Mas Goenawan ini adalah seorang pahlawan kita yang gemar pada keadilan dan kemerdekaan. Perasaan persamaan, semboyan dari kaum demokrasi, sungguh-sungguh hidup di dalam hati sanubarinya. Mengingati tabiatnya ini, tidak mengherankan kalau waktu berumur kira-kira 15 tahun dia sudah bertukar pikiran dengan orang-orang yang senang melihat perubahan keadaan adat-istiadat dan cara di dalam masyarakat kita. Polemik ini berturut-turut dilakukan di dalam suratkabar harian Java Bode. Mas Goenawan menyatakan sama sekali tidak setuju terhadap peraturan benuman bupati yang berdasarkan kekolotan, ketidakadilan, dan seterusnya.


Goenawan menanggung tugas untuk mengubah pikiran orang-orang terhadap pergerakan kita melalui tulisan-tulisannya. Dengan gembira, dia menjalankan kewajiban itu, dengan gembira mengorbankan tenaga dan pikirannya. Pemah sebagai ketua perkumpulan, saya akan dikeluarkan dari sekolah dokter, karena sebagian guru menuduh saya hendak melawan pemerintah. Seketika itu juga dengan anjuran dr Goenawan, kawan-kawan kita juga minta dilepas dari sekolah bila saya benar-benar dikeluarkan. Untung bagi saya, direktur dari sekolah itu adalah dr HF Roll memiliki pandanga dan pikiran yang luas. Di dalam rapat guru-guru, direktur itu bertanya kepadateman sekerjanya, “Apakah di antara tuan-tuan yang hadir di sini tidak ada yang lebih marah dari Soetomo waktu tuan-tuan berumur 18 tahun?” Pengaruh pertanyaan itu memberi manfaat pada diri saya. Teman-teman saya yang sepaham menyatakan, “Soetomo sebagai ketua wajib menyatakan di depan umum perasaan dan kemauan yang dikandung dalam hati sanubari kita; kalau ia dikeluarkan, maka haruslah kita yang sama keyakinan dan perasaan pun dikeluarkan. ” Solidaritas semacam ini jarang saya temui lagi di dalam hidup saya. Sampai pada Boedi Oetomo diserahkan kepada orang- orang dewasa yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang sepadan dengan kewajiban terhadap perkumpulan ini, maka kita kaum muda, anak-anak sekolah, dokter, anggota- anggota dari Boedi Oetomo menyatakan persatuan yang sampai kini hampir tidak ada bandingnya (Sekarlaranti, Moersid, & Saryadi, 2014:37).


 
 
 

Comments


  • Black Facebook Icon
  • Black Twitter Icon
  • Black Instagram Icon

Sumber Tulisan

Departemen Penerangan RI. (1999). Kebangkitan Nasional dan Lahirnya Boedi Oetomo. Jakarta: Ditjen Pembinaan Pers dan Grafika.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2013). Makna Organisasi Boedi Oetomo. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional.

Sekarlaranti, M., Moersid, A. F., & Saryadi, a. (2014). 9 Tokoh Pendiri Boedi Oetomo. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional.

Yasmin. (2016). Peranan Boedi Oetomo Dalam Meningkatkan Kesadaran Masyarakat. Lontar, 1-10.

bottom of page